Once upon a Time

H – 12 tahun..

Saat itu gue masih SMA yang kalau diterjemahkan dalam bahasa gaowl ya kisaran highschool lah.. (najis sok inggris)

DIsaat itu ada beberapa teman gue yang terkena sindrom oportunis stadium akhir.. What the kamsud? Walaupun gue gak begitu faham artinya oportunis, gue akan coba terjemahkan istilah tersebut melalui sudut pandang gue yang selebar daun kelor ini.

“Oportunis” yang saya maksudkan adalah bagaimana dia menguasai satu elemen Tuhan yang disebut dengan “kesempatan”

Ya, orang ini entah bagaimana bisa memanfaatkan semua kesempatan yang bersinggungan dengan jalan hidupnya. Pada level selanjutnya bahkan gue rasa dia bisa menciptakan kesempatan tersebut. Alam bawah sadarnya telah membuat seluruh aktifitas yang dilakukannya menunjang bagaimana kesempatan tersebut tercipta. Jadi, kalau anda bertanya pada gue Bagiamana caranya agar saya bisa menguasai elemen Tuhan yang satu ini?” gue akan jawab: lahir lah sebagai si “oportunis” tinggallah dalam lingkungannya, dan pakailah pola pikirnya serta terapkan mentalitasnya selama kurang lebih 18 tahun. Oiya saat itu rata-rata umur kita-kita 18 tahunan..

Seperti tokoh jagoan di game RPG, sebuah kemampuan “oportunis” tampaknya akan menjadi sekedar bakat yang luar biasa jika tidak didukung kemampuan lainnya. What the kamsud? Jadi gini, misal dalam game RPG tersebut, sang tokoh memiliki kemampuan untuk memakai dua pedang di kedua tangannya dan melakukan serangan dua kali. (bagi yang gak main game RPG, biasanya si tokoh umum cuma bisa pake satu pedang dan satu tameng) Nah, bukankah lebih spesial (tidak pakai telor) lagi jika tokoh tersebut memakai dua senjata yang maha dahsyat attack power nya? Sehingga serangan dan daya hancur yang dihasilkan menjadi habat dan dua kali lipat.

Maaf kalau kurang representatif gambar BELALANG TEMPURNYA. Silakan klik gambarnya untuk melihat belalang tempur yang sebenarnya..

Maaf kalau penjelasannya kurang oke. Atau anda yang doyan logika sederhana, sebuah mobil super cepat, let’s say belalang tempur, akan tampak konyol jika ban atau roda yang dipakainya hanya mampu menahan kecepatan 50mph seperti ban sepeda roda tiga untuk anak balita kan?

Nah si “oportunis” ini, sialnya, dianugerahi kemampuan berlebih oleh Sang Pencipta. beberapa diantaranya adalah kemampuan “lidah tak bertulang” dan “berubah bentuk sesaui wadahnya”. Oiya sekali lagi saya tekankan bahwa tulisan ini bukan pelajaran sastra bahasa indonesia maupun fisika dasar karena istilah istilah yang saya pake emang dari kedua mata pelajaran itu untuk mendeskripsikan bakat alami si “oportunis” ini. Lukman.

Hey, ane Lukman. Orang-orang terdekat ane, yang mungkin pada 12 tahun yang lalu menganggap ane punya bakat untuk menciptakan kesempatan, sebenernya salah kaprah. Ane cuma produk gagal dari dunia ini yang mencoba bertahan hidup sampai waktunya ane diperintahkan pindah dari kontrakan ane yang biasa disebut dunia yang fana ini.

Mengenai kemampuan lainnya, ane sebenernya lebih senang kalau itu disebut kemampuan adaptif dan people skill. Karena istilah yang dipakai temen ane itu cenderung untuk keindahan tata bahasa ngawur yang ditujukan untuk keindahan tulisan ini.

Jangan. Plis jangan tanya ane bagian mana yang indah dari tulisan ini.. Temen ane emang punya selera keindahan dan standar estetika yang tidak sesuai dengan jaman post modern ini.

Sebenarnya elemen Tuhan yang dia maksud adalah mental ane yang tidak menyerah kalau sesuatu hal tersebut belum sesui dengan keinginan ane. Biasanya ane cari cara gimana supaya semuanya bisa sesuai dengan keinginan atau tujuan yang hendak ane capai. Entah cara-cara itu halal atau tidak. hehe.

Tapi akhir-akhir ini (beberapa tahun setelah seting waktu H-12) ini, tampaknya elemen Tuhan tersebut sudah menempel pada pola alam bawah sadar ane, jadi tingkat keberhasilan “menciptakan” kesempatan tersebut memiliki tingkat keberhasilan diatas 80% dan dihasilkan tanpa kerja keras seperti dulu. Mungkin seluruh “millisecond thin action” dalam segala tingkah laku ane yang menjadikan angka 80% diatas menjadi mungkin.

Apa itu “millisecond thin action” ? Istilah tersebut yang kita sepakati sebagai 12,5% dari takdir. Kalau ente menguasai hal tersebut, 12,5% dari takdir bisa ente kendalikan, tapi hanya untuk aspek tertentu yang sangat spesifik, misalnya: bagaimana seorang Valentino Rossi bisa mencapai puncak kesuksesan luar biasa dalam dunia olah raga. Karena “millisecond thin action” ini lah yang selalu berulang dan membentuk pola dalam setiap balapan yang dia lakukan.

Pusing? Sama.. mari kita hentikan pembahasan tersebut dan kembali pada alur cerita..

Anehnya kalau dalam cerita fiksi lainnya biasanya orang -orang kayak ane dan temen ane biasanya akan bertemu orang-orang lain dengan kemampuan dan kapabilitas yang bisa saling menunjang. Dan inilah dia, mungkin untuk sementara waktu, fokus cerita akan sedikit beralih ke orang ini. Simon.

(Siiiipp masuk ke bagian si Simon… harusnya sih mulai rame ceritanya..)

Disclaimer: Semua nama dan peristiwa yang terjadi dalam kisah ini hanyalah semata mata berdasarkan ingatan penulis dan penulis bukanlah salah satu bagian dari tokoh di cerita ini, dan belum tentu cerita ini berupa fakta. Ada baiknya jika anda mengklarifikasi terlebih dahulu mengenai apa yang tertuang karena ingatan penulis cenderung berasal dari imajinasinya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s